PALANGKA RAYA, Beritakalteng24.com – Hujan deras yang mengguyur Kalimantan Tengah selama sepekan terakhir kembali menenggelamkan sejumlah wilayah di hulu daerah aliran sungai (DAS). Rumah-rumah terendam, jalan desa tertutup air, dan warga kembali mengungsi ke tempat yang lebih tinggi.
Namun bagi sebagian masyarakat, bencana ini bukan hal baru. Setiap tahun mereka menghadapi banjir yang datang silih berganti. Bedanya, dulu air mudah surut, kini semakin lama menggenang.
“Sekarang hujan sedikit saja, air cepat naik,” ujar Sarman, warga sebuah desa di tepian Sungai Kahayan. “Kami tidak punya lagi tempat aman. Mau pindah ke mana? Tidak ada uang beli tanah yang tinggi.”
Sarman bukan satu-satunya yang mengeluh. Bagi banyak warga di pedalaman Kalimantan Tengah, banjir bukan hanya soal air, tapi soal keadilan. Mereka merasa menjadi korban dari pembangunan yang tak berpihak pada rakyat kecil.
Ketika Hutan Hilang, Air Tak Lagi Bersahabat
Masyarakat meyakini, banjir yang makin parah bukan hanya akibat cuaca ekstrem, tapi juga karena hilangnya hutan di hulu sungai. Ribuan hektare kawasan yang dulu menjadi daerah resapan kini berubah menjadi perkebunan sawit, tambang batu bara, atau area industri lain.
“Dulu air hujan bisa diserap tanah, sekarang semua tanah keras, sudah jadi kebun sawit. Makanya air langsung lari ke sungai dan meluap ke rumah kami,” keluh Sarman.
Ia mengaku sudah beberapa kali ditawari perusahaan untuk menjual lahannya. Namun, ia menolak.
“Saya tidak mau bebaskan tanah saya di tengah kebun sawit. Dari dulu saya lihat, yang untung cuma investor. Masyarakat lokal tidak dapat apa-apa,” katanya tegas.
Sarman mengakui dirinya sering dicap keras kepala bahkan dianggap bodoh karena menolak uang besar. Tapi, ia tidak menyesal.
“Saya mungkin dibilang orang bodoh, tapi saya tidak sebodoh itu. Kalau hanya menguntungkan sepihak dan menyusahkan masyarakat, itu tidak elit, tidak adil,” ujarnya sambil menatap lahan yang kini dikepung kebun kelapa sawit.
Pelajaran dari Air yang Tak Pernah Berhenti
Hujan yang turun hari-hari ini seolah menjadi pengingat keras dari alam. Masyarakat kini belajar menilai sendiri dampak pembangunan yang tak ramah lingkungan.
“Sekarang kita bisa lihat dan belajar dari semua musibah ini. Jangan sampai kita jadi anjing penjilat investor, ikut merusak hutan, lalu anak cucu kita nanti hidup jadi pengemis,” kata Sarman lirih.
Ia menegaskan, masyarakat kini tidak lagi mudah dibodohi. Teknologi dan informasi membuat mereka bisa membaca dan berpikir lebih luas.
“Kita tahu siapa yang merusak, siapa yang ambil untung. Sekarang saatnya kita sadar dan jaga tanah ini buat anak cucu,” katanya.
Peringatan yang Tak Boleh Diabaikan
Banjir demi banjir seakan menjadi alarm bagi pemerintah dan perusahaan untuk lebih serius memperhatikan keseimbangan alam. Tidak cukup hanya dengan bantuan logistik setiap musim hujan; perlu perubahan sistemik dalam tata kelola hutan dan lahan.
Kalimantan Tengah, dengan kekayaan alam yang luar biasa, kini menghadapi ujian berat. Ketika hutan-hutannya terus ditebang dan tanahnya terus dikeruk, masyarakat di bawah hanya bisa menatap air yang makin tinggi—dan harapan yang makin surut.
“Semoga semua ini bisa menyadarkan kita,” tutup Sarman pelan. “Hutan itu hidup kita. Kalau habis, kita juga habis.” (red)






