MUARA TEWEH, Beritakalteng24.com – Dana transfer dari pemerintah pusat untuk Kabupaten Barito Utara pada tahun anggaran 2026 dipastikan mengalami penurunan sangat drastis. Dari sebelumnya mencapai sekitar Rp1,7 triliun, kini Barito Utara hanya akan menerima Rp490 miliar, atau merosot lebih dari 70 persen.
Penurunan signifikan ini diungkapkan Sekretaris Daerah Barito Utara, Drs. Muhlis, saat membuka kegiatan Simposium di Balai Antang Muara Teweh, beberapa hari lalu (29/9/2025).
“Walaupun APBD kita diperkirakan tetap di angka Rp1,8 triliun, namun ini sangat berbeda dibanding APBD tahun ini yang mencapai Rp3,6 triliun setelah perubahan,” ungkapnya.
Dengan turunnya dana transfer tersebut, Pemkab Barito Utara diproyeksikan mengalami kekurangan anggaran lebih dari Rp1,8 triliun. Kondisi ini membuat pemerintah daerah harus mengambil langkah cepat, termasuk melakukan efisiensi anggaran besar-besaran agar penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan tetap berjalan.
Ketika dimintai kembali penjelasan pada Rabu (1/10/2025), Sekda Muhlis menegaskan bahwa penyebab utama merosotnya dana transfer adalah anjloknya produksi batu bara di Barito Utara pada tahun berjalan.
“Penerimaan dana transfer daerah menurun karena hasil produksi batu bara di Barito Utara sedang turun. Ini berdampak pada merosotnya pendapatan dana bagi hasil di sektor Minerba. Solusinya, kita wajib melakukan efisiensi ketat pada 2026,” tegasnya.
Penurunan produksi batu bara tidak hanya berdampak pada pendapatan daerah, tetapi juga memengaruhi kemampuan fiskal pemerintah dalam merencanakan pembangunan prioritas untuk tahun depan. (red)






