PANGKALAN BUN, Beritakalteng24.com – Maraknya kasus penipuan melalui media sosial kembali meresahkan masyarakat. Pelaku memanfaatkan kedekatan emosional dengan korban melalui Facebook dan Instagram sebelum melancarkan aksinya.
Modus yang digunakan beragam, mulai dari mengaku sebagai pengusaha yang ingin mengembangkan usaha hingga berpura-pura menjadi anggota kepolisian dengan cerita kepemilikan lahan sawit di Kalimantan Tengah.
Umumnya, pelaku memulai komunikasi dengan mengirim permintaan pertemanan di media sosial. Setelah hubungan terasa akrab, komunikasi berlanjut ke aplikasi WhatsApp.
Intensitas percakapan yang semakin sering membuat korban perlahan percaya dan seolah “terhipnotis” oleh cerita serta keluhan yang disampaikan pelaku.
Salah satu keluarga korban, Anastasyakin, mengungkapkan bahwa kakaknya yang merupakan seorang janda di wilayah Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), menjadi korban dalam kasus tersebut.
“Sudah berkali-kali kami ingatkan. Bahkan saya pernah membawa teman yang merupakan anggota Polres Kobar untuk menjelaskan, tapi kakak saya justru bilang tidak usah ikut campur urusan ini,” ujar Anastasyakin, Minggu (13/12/2025).
Ia menduga kakaknya telah terlanjur percaya, bahkan memiliki perasaan khusus terhadap pelaku.
Menurutnya, pelaku tidak pernah secara langsung meminta uang, namun sering mengeluh soal usaha yang terancam bangkrut serta berbagai urusan administrasi yang harus segera diselesaikan.
Akibatnya, korban beberapa kali mengirimkan uang. Setelah ditelusuri, total dana yang telah ditransfer diduga hampir mencapai Rp100 juta, dengan satu kali transfer terbesar mencapai Rp40 juta.
Lebih memprihatinkan, setiap kali keluarga mencoba menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan modus penipuan, korban justru marah dan menolak untuk percaya. Pelaku sendiri mengaku sebagai anggota kepolisian yang memiliki lahan sawit di Kalimantan Tengah.
Pihak keluarga berharap kejadian ini dapat menjadi pelajaran bagi masyarakat agar lebih waspada terhadap modus penipuan berbasis pendekatan emosional di media sosial, terutama bagi mereka yang hidup sendiri dan rentan secara psikologis. (Ya)






