PANGKALAN BUN, Beritakalteng24.com – Di kalangan pelaku usaha pertambangan zirkon di Kalimantan Tengah, nama Kuncoro Candra Winata bukanlah sosok asing. Meski bukan putra asli Kotawaringin Barat, pengusaha yang dikenal rendah hati ini telah menetap lama di Pangkalan Bun dan menjadikan daerah tersebut sebagai rumah keduanya. Baginya, kecintaan pada daerah tidak ditentukan oleh asal-usul, tetapi oleh kontribusi nyata yang dapat diberikan.
Sejak merintis usaha, Kuncoro menjadikan kejujuran dan keterbukaan sebagai prinsip utama dalam menjalankan bisnis maupun berinteraksi dengan masyarakat.
“Saya lebih suka terbuka dan jujur. Kejujuran dan kebenaran itu kunci utama,” ujarnya dalam perbincangan hangat, Kamis (11/12/2025).
Di tengah ketatnya persaingan dunia usaha, Kuncoro tetap memilih menjaga integritas. Ia meyakini bahwa kepercayaan merupakan modal terbesar. “Sekali kepercayaan hilang, maka runtuhlah semuanya,” tegasnya.
Kuncoro juga dikenal dekat dengan masyarakat. Ia tidak segan turun langsung ke lapangan, berdialog dengan pekerja, hingga berbaur dengan warga sekitar lokasi aktivitas usaha. Sikap membumi itulah yang membuatnya dihormati, meski dirinya merupakan pendatang.
Di luar bisnis, Kuncoro aktif mendukung berbagai kegiatan sosial. Ia percaya bahwa kesuksesan tidak hanya diukur dari materi, tetapi juga dari manfaat yang dapat dibagikan kepada lingkungan sekitar.
“Kita hidup tidak sendiri, pasti ada peran orang lain. Maka sebisa mungkin saya ingin memberi kembali,” tuturnya.
Rasa cintanya pada Kalimantan Tengah membuatnya berkomitmen untuk terus berkarya di daerah ini. Ia berharap dunia usaha di Kobar dapat berkembang secara sehat, transparan, dan memberi ruang bagi investasi yang membawa dampak positif bagi masyarakat.
Kisah Kuncoro menjadi contoh bahwa status sebagai pendatang bukanlah hambatan untuk berkontribusi. Dengan kejujuran, ketulusan, dan kerja keras, siapa pun dapat menjadi bagian penting dari daerah yang dicintainya. Di tengah berbagai tantangan, nilai-nilai dasar seperti integritas dan kebenaran tetap menjadi pondasi yang abadi. (Yo/red)






