Menteri Mukhtarudin Minta Museum Cornelius Willem Masuk Era Digital agar Sejarah TNI AU Tak Pudar

Kalteng, Nasional49 Dilihat

PANGKALAN BUN, Beritakalteng24.com — Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Mukhtarudin melakukan kunjungan ke Museum Sejarah Cornelius Willem di Lanud Iskandar, Pangkalan Bun, Minggu (16/11/2025).

Dalam agenda pulang kampung itu, ia menegaskan perlunya strategi baru agar jejak perjuangan TNI Angkatan Udara di Kalimantan Tengah dapat terus dikenang oleh generasi muda.

Museum yang menyimpan berbagai koleksi penting—mulai dari artefak perintis, dokumentasi operasi udara, hingga arsip perjalanan Lanud Iskandar—dinilai Mukhtarudin sebagai ruang edukasi yang harus tetap relevan. Ia mengatakan museum tidak boleh hanya mengandalkan kunjungan fisik karena perubahan zaman menuntut akses informasi yang lebih luas dan cepat.

Mukhtarudin kemudian mendorong pengelola museum untuk mempercepat proses digitalisasi.

Menurutnya, generasi muda saat ini lebih dekat dengan gawai ketimbang ruang pamer tradisional, sehingga sejarah harus hadir di platform yang akrab dengan mereka. Ia menilai, digitalisasi akan membuat museum tidak hanya menarik bagi warga lokal, tetapi juga bagi pekerja migran Indonesia di manapun berada.

Dalam kesempatan itu, Mukhtarudin menyatakan kekagumannya terhadap kelengkapan koleksi museum. Ia mengaku perjalanan singkat menyusuri ruang pamer tersebut memberi pengalaman emosional yang mengingatkannya pada pentingnya menjaga nilai perjuangan dan nasionalisme. “Setiap sudut museum ini mengajak kita kembali memahami arti pengorbanan,” ujarnya.

Kunjungan Mukhtarudin turut didampingi Komandan Lanud Iskandar dan unsur TNI AU lainnya. Pihak pengelola menyambut baik ajakan digitalisasi yang dinilai dapat membuka peluang edukasi sejarah dengan cara lebih modern, mulai dari katalog virtual hingga tur digital berbasis multimedia.

Mukhtarudin berharap Museum Cornelius Willem dapat berkembang menjadi pusat literasi sejarah yang inklusif dan mudah dijangkau. Ia menegaskan bahwa pelestarian sejarah adalah tanggung jawab bersama. “Jika nilai perjuangan ini bisa diakses dari mana saja, generasi kita tidak hanya mengenal sejarah, tetapi juga mencintai bangsanya,” kata Mukhtarudin. (Yo)