Sosok Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei yang Tewas dalam Serangan AS–Israel

Berita, Nasional3 Dilihat

TEHERAN – Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, diumumkan tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel di Teheran, Sabtu (28/2/2026).

Kematian tokoh sentral Republik Islam Iran tersebut menandai babak baru dalam eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.

BACA: Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei Dilaporkan Tewas dalam Serangan Gabungan AS–Israel: https://beritakalteng24.com/pemimpin-tertinggi-iran-ayatollah-ali-khamenei-dilaporkan-tewas-dalam-serangan-gabungan-as-israel/

Pengumuman kematian Khamenei disampaikan oleh sejumlah media pemerintah Iran, termasuk stasiun televisi nasional IRIB, serta dikonfirmasi oleh kantor berita Tasnim dan Fars. Pemerintah Iran menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari serta tujuh hari libur nasional sebagai bentuk penghormatan.

Lahir dari Keluarga Ulama Sederhana

Dilansir dari Al Jazeera dan laman resmi Khamenei.ir, Ali Khamenei lahir di kota suci Mashhad pada 19 April 1939. Ia merupakan putra kedua dari Sayyed Javad Khamenei, seorang ulama sederhana yang dikenal hidup dalam keterbatasan ekonomi namun menjunjung tinggi nilai kesederhanaan dan religiusitas.

Sejak kecil, Khamenei menempuh pendidikan di maktab, sekolah tradisional untuk mempelajari alfabet dan Al-Qur’an. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan ke sekolah Islam dan kemudian memperdalam studi teologi di seminari Mashhad.

Di sekolah agama seperti Soleiman Khan dan Nawwab, Khamenei mempelajari logika, filsafat, dan yurisprudensi Islam di bawah bimbingan sejumlah ulama terkemuka, termasuk ayahnya sendiri.

Aktivis Revolusi dan Perlawanan terhadap Rezim Shah

Saat remaja, Khamenei terpengaruh pidato ulama revolusioner Navvab Safavi yang menentang kebijakan anti-Islam rezim Shah. Pengaruh tersebut membentuk pandangan politiknya sejak dini.

Pada 1962, ia bergabung dengan gerakan revolusioner yang dipimpin oleh Ayatullah Ruhollah Khomeini, tokoh utama Revolusi Islam Iran. Selama 16 tahun, Khamenei aktif menentang pemerintahan Shah Mohammad Reza Pahlavi yang dianggap pro-Barat dan anti-Islam.

Dalam aktivitasnya, Khamenei beberapa kali ditangkap dan dipenjara oleh polisi rahasia SAVAK. Ia juga pernah diasingkan selama tiga tahun akibat aktivitas politik bawah tanahnya. Meski mengalami tekanan dan pembatasan, ia tetap melanjutkan kegiatan dakwah dan mobilisasi massa hingga Revolusi Islam 1979 berhasil menggulingkan rezim Shah.

Menjadi Pemimpin Tertinggi Iran

Setelah wafatnya Ruhollah Khomeini pada 1989, Ali Khamenei diangkat sebagai Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Presiden Iran pada 1981–1989, termasuk saat berlangsungnya perang Iran–Irak pada 1980-an.

Di bawah kepemimpinannya, Iran memperkuat struktur militer dan paramiliter, termasuk Garda Revolusi. Pengalaman perang yang panjang melawan Irak—yang saat itu dipimpin oleh Saddam Hussein—serta dukungan Barat kepada Baghdad, memperdalam sikap kritis dan ketidakpercayaannya terhadap Amerika Serikat dan negara-negara Barat.

Sebagai Pemimpin Tertinggi, Khamenei memegang otoritas tertinggi dalam sistem politik Iran, termasuk atas militer, peradilan, dan kebijakan strategis negara.

Serangan dan Konfirmasi Kematian

Presiden Amerika Serikat Donald Trump turut mengumumkan kematian Khamenei melalui media sosial miliknya, menyebutnya sebagai salah satu figur paling jahat dalam sejarah.

Serangan udara dilaporkan menghantam sejumlah titik strategis di Teheran, termasuk kompleks kediaman resmi Khamenei yang disebut dijatuhi puluhan bom. Media Iran juga melaporkan adanya korban jiwa dari kalangan keluarga Khamenei, meski detail lengkapnya masih terus dikumpulkan.

Stasiun penyiaran negara IRIB menyatakan bahwa “Pemimpin Tertinggi Iran telah mencapai syahid,” sementara kantor berita Fars mengumumkan penetapan 40 hari berkabung nasional.

Kematian Khamenei diperkirakan akan membawa dampak besar terhadap stabilitas politik Iran dan dinamika geopolitik kawasan, mengingat peran sentralnya selama lebih dari tiga dekade dalam menentukan arah kebijakan dalam dan luar negeri Republik Islam tersebut. (red)