Rumah Sekaligus Tempat Usaha Pengepul Barang Bekas Dilalap Si Jago Merah

Palangka Raya20 Dilihat

PALANGKA RAYA, Beritakalteng24.com – Siang yang biasanya tenang di kawasan Jalan Pasendeng, Kelurahan Sabaru, Kota Palangka Raya, mendadak berubah menjadi kepanikan. Asap hitam membumbung tinggi ke udara, disusul kobaran api yang dengan cepat melahap sebuah rumah sederhana milik Rusardi (49), Sabtu (30/5/2026).

Warga sekitar berhamburan keluar rumah setelah mendengar suara ledakan yang cukup keras dari arah bangunan tersebut. Tak lama kemudian, api terlihat membesar dan menjalar ke seluruh bagian rumah.

Putri (26), salah seorang warga yang tinggal tidak jauh dari lokasi kejadian, menjadi saksi awal kebakaran tersebut. Ia mengaku sempat terkejut mendengar suara ledakan sebelum melihat asap dan api membubung dari bagian belakang rumah.

“Awalnya terdengar seperti suara petasan atau kembang api yang meledak dari bagian belakang atau tengah rumah,” ujarnya.

Karena penasaran, Putri keluar rumah untuk memastikan sumber suara tersebut. Saat itulah ia melihat api mulai berkobar.

“Waktu saya lihat pertama kali, apinya masih di belakang. Tapi cukup besar dan cepat sekali membesar,” katanya.

Dalam waktu singkat, api menguasai seluruh bangunan yang sebagian besar terbuat dari material mudah terbakar. Warga hanya bisa menyaksikan kobaran api membesar sambil menunggu petugas pemadam kebakaran tiba di lokasi.

Bagi Rusardi, kebakaran itu bukan hanya menghanguskan tempat tinggalnya. Rumah berukuran sekitar 4 x 6 meter tersebut juga menjadi tempat dirinya menggantungkan hidup.

Sehari-hari, pria itu menjalankan usaha sebagai pengepul barang bekas. Berbagai barang hasil pengepulannya disimpan di rumah sebelum dijual kembali.

Ironisnya, saat peristiwa terjadi, Rusardi tidak berada di rumah. Ia sedang bekerja berkeliling seperti biasa.

“Waktu kejadian saya sedang keluar. Rumah memang kosong karena saya tinggal sendiri,” tuturnya saat ditemui di lokasi.

Ketika menerima kabar rumahnya terbakar, Rusardi segera kembali. Namun saat tiba, bangunan yang selama ini menjadi tempat tinggal sekaligus tempat usaha itu sudah dilalap api.

Dengan wajah sedih, ia hanya bisa melihat sisa-sisa puing yang masih mengepulkan asap.

Menurut Rusardi, sebelum meninggalkan rumah, ia telah memastikan seluruh peralatan dalam keadaan aman. Tidak ada aktivitas memasak ataupun penggunaan alat elektronik berdaya besar.

“Semuanya sudah dimatikan. Kompor tidak dipakai karena hari ini saya tidak masak. Yang masih menyala hanya kulkas,” katanya.

Penyebab pasti kebakaran hingga kini masih belum diketahui dan menunggu hasil penyelidikan pihak berwenang. Namun dugaan awal muncul setelah sejumlah warga mendengar suara ledakan sebelum api membesar.

Akibat kebakaran tersebut, tidak ada satu pun barang berharga yang berhasil diselamatkan. Seluruh isi rumah, mulai dari perabotan, perlengkapan pribadi, hingga aset usaha pengepul barang bekas, hangus terbakar.

Yang paling membuat Rusardi terpukul adalah hilangnya tabungan yang selama ini ia kumpulkan sedikit demi sedikit dan disimpan di dalam celengan di rumah.

“Semua habis. Tabungan juga ikut terbakar,” ujarnya lirih.

Kerugian akibat kebakaran itu diperkirakan mencapai lebih dari Rp30 juta. Nilai yang cukup besar bagi seorang pekerja sektor informal yang mengandalkan usaha pengepul barang bekas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa musibah bisa datang tanpa diduga. Dalam hitungan menit, tempat tinggal, usaha, dan hasil jerih payah bertahun-tahun dapat lenyap begitu saja.

Kini, Rusardi harus memulai kembali dari nol. Di tengah puing-puing rumah yang menghitam, tersisa harapan agar dirinya dapat bangkit dan kembali menata kehidupan setelah musibah yang mengubah segalanya dalam satu siang itu. (red)